Sabtu, 17 Juni 2017

Apa Kita Salah Memaknai Agama?

Apa Kita Salah Memaknai Agama?


Gambar Tanda Tanya
http://isha.sadhguru.org/

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Pernahkah kita bertanya, apakah pengetahuan kita bertambah setelah kita belajar pada ideologi tertentu? Apakah pengetahuan kita bertambah setelah mempelajari nilai-nilai, ajaran, kebiasaan-kebiasaan yang agama kita tuntun? Apakah dengan mempelajari ilmu agama membuat kita semakin menyayangi manusia, hewan, dan makhluk lainnya? Meskipun banyak diantara kita malah lebur dalam dogmatis yang memberikan rasa kebencian dan meremehkan mereka yang tidak seideologi dengan kita. Ataukah bahkan kita membenci dan meremehkan mereka hanya karena tidak satu tempat kajian dengan kita?

Lebih tepatnya apakah kita pernah mempertanyakan nilai-nilai, ajaran, dan kebiasan-kebiasaan yang tanamkan oleh agama dalam kehidupan kita? Apakah nilai-nilai, ajaran, kebiasaan-kebiasaan itu memberikan dampak positif atau negatif jika diyakini dan dilestarikan. Sadarkah kita, bahwa tidak sedikit di luar sana mengatasnamakan ajaran agama untuk membunuh, menistakan, mencaci, dan segala bentuk penindasan lainnya hanya karena persoalan tidak seideologi dengannya.

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Apakah menghargai dan memberi kebaikan hanya terbatas pada lingkup ideologi yang sama? Apakah ilmu agama dan ilmu - ilmu lainnya yang kita pelajari selama ini menuntun kita menjalani kehidupan yang harmonis dengan sesama manusia?

"Agama mengajari kita nilai - nilai pluralitas meskipun tidak mengakui pluralisme", itulah kata mereka. Entah, menurutmu sepakat atau tidak. Setidaknya aku manyampaikan satu hal untuk kita renungkan. 

Para agamawan mengatakan, "Ilmu agama merupakan ilmu yang universal dan meluas". Jika demikian mengapa banyak diantara kita, yang juga merupakan pecandu agama yang malah menganggap agama dapat dimengerti olehnya. Seolah - olah agama itu hanya bisa ditafsirkan selebar daun kelor. Mengapa kita mesti menyempitkannya dengan berbagai dalil - dalil intoleransi? 

Menyempitkan makna agama hanya sebatas kalkulasi pahala dan dosa, takut - menakuti dengan neraka, mengiming - imingkan dengan surga. Bukankah agama hadir sebagai wujud transformasi dari zaman penindasan dan kebodohan menuju zaman pembebasan dan peradaban?

Saya adalah manusia tak berilmu, tapi ada satu hal yang saya yakini bahwa Tuhan menciptakan manusia yang berbeda denganku, tak seakidah denganku, tak seideologi denganku, semua itu bukanlah kesia-siaan. Mampukah aku menjudge mereka yang berbeda denganku dengan dalil-dalil kitab suci yang sepertinya sengaja di gelintirkan sehingga bermakna intoleransi. Mampukah kita membenci dan meremehkan mereka sedangkan agama dan ideologi kita tak mengajarkan demikian? 

Menurutku tidak baik suatu ideologi jika tidak dapat memberikan nilai harmonisasi dalam kehidupan kita. Menurutku tidak baik suatu ideologi yang hanya memberikan fanatisme dan menghilangkan toleransi untuk ideologi yang lain. Itu menurutku, namun tak menghalangi engkau mengatakan hal yang berbeda atas dasar menurutmu. Saudaraku, bagaimanakah menurutmu ideologi atau agama yang baik itu?

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Pernahkah kita bertanya tentang pentingnya agama dalam kehidupan? Bukankah banyak problematika besar - besaran saat ini diakibatkan oleh persoalan agama. Penduduk Indonesia saling demo-mendemo, caci-mencaci, fitnah-memfitnah, semua itu karena alasan kriminalisasi, penistaan, dan semua itu karena agama. Kenyataan ini tidak lagi mencerminkan kesucian, kedamaian, dan urgensi ajaran agama sebagai rahmat untuk alam dan manusia.

Karena agama, tercipta peradaban yang besar dan kehidupan masyarakat damai. Namun dilain sisi karena agama pula, akan tercipta peperangan dan pertikaian diantara kita. Jika kita dihadapkan pada realitas-realitas ini dimanakah letak kesalahan kita dalam memaknai Agama dalam kehidupan ini? Mampukah setiap orang memaknai Agama itu secara filosofis sebagaimana hakikat yang paling esensial dalam suatu agama?

Ataukah agama yang kita anut adalah agama yang salah sehingga menimbulkan permasalahan? Lantas jika agama kita salah maka agama apakah yang benar yang harus kita anut? Bukankah semua agama mendefenisikan diri sebagai agama yang benar. Tapi mengapa penganutnya mendustakan kebenaran ajaran agama mereka?

Ataukah bahkan kita yang salah dalam memahami agama itu? Kesalahan pemaknaan kita akan agama membuat kita banyak melakukan penindasan, penistaan, mencela agama lain dan perbuatan lain yang kontradiksi terhadap ajaran agama. Padahal agama menjanjikan kehidupan yang sejahtera, rukun, dan damai. Namun kesalahan pemaknaan akan ajaran agama membuat kita semakin jauh akan kesejahteraan dan kerukunan itu. Apakah problematika hari ini muncul karena kesalahan pemaknaan kita terhadapa agama? Ataukah ini hanyalah masalah biasa yang dibungkus dengan nama agama?

Namun ada hal yang unik. Ada orang - orang tertentu yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama namun juga banyak melakukan penyimpangan dan perbuatan yang tidak sesuai ajaran agama dan bahkan  lebih parah dibandingkan orang yang tidak mengenal agama. Bukan hanya ia mengkafirkan, mencaci-maki, meremehkan bahkan juga mengabaikan penderitaan saudara seagamannya. Karena terlena akan kenikmatan ritual semata. Apakah agama hanya mengajarkan ibadah dan ritual saja?

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Sangat sedikit seorang agamawan yang tidak memiliki rasa toleran. Apakah ini dikarenakan agama memang tak memiliki nilai toleran? Ataukah toleransi agama ini dimangsa oleh mereka para agamawan yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi?

Saya adalah manusia tidak berilmu, namun ada hal yang saya pahami dari ketidaktahuanku bahwa agama bukanlah persoalan hubungan seseorang dengan Tuhannya semata. Jika agama hanya persoalan hubungan antara Tuhan dan hambanya, maka pantas agama itu dikatakan candu, yang membuat orang terlena akan kenikmatan ritual semata dan mengabaikan kehidupan sekitarnya. Itulah sekelumit pemaknaanku akan entitas agama.

Saudaraku, ingat bahwa hubungan vertikal dan horizontal mesti disejalankan. Sebagai proyeksi hubungan terhadap Tuhan maka akan berdampak pada hubungan kita terhadap sesama manusia. Apakah logis jika kita mendustakan kebaikan orang lain sebagai alasan kita tidak satu agama, namun dilain hal kita meyakini bahwa Tuhan kitalah yang memberikan kasih sayang, rezeki, kekuatan kepada seluruh manusia.

Jika segala kebaikan yang orang lain berikan kepada kita hanyalah sebuah kesia-siaan karena alasan akidah yang berbeda dengan kita, bukankah lebih sia-sia lagi Tuhan menciptakan manusia yang demikian sia-sianya?

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Untuk saudaraku seakidah denganku, aku memiliki pertanyaan konyol untuk kita. Jika mereka berbeda akidah dengan kita, apakah hanya karena perbedaan itu mereka tidak layak mendapatkan perlakuan dengan kasih sayang, tidak layak mendapatkan kepedulian, dan tidak layak mendapatkan penghargaan? Atau lebih tepatnya hanya pantas mendapatkan hardikan, hujatan, lirikan sinis, dan sindiran kasar? Bukankah hujatan, hardikan, sindiran kasar, dan kekerasan bukanlah ajaran dalam ideologi dan akidah kita.?

Untuk mereka yang tidak seakidah denganku. Wahai saudaraku, jika ideologi dan agamamu memberikan dogma dan perintah demikian halnya diatas. Apakah engkau akan membunuhku hanya karena kita berbeda Ideologi dan Agama? Apakah engkau rela memutuskan tali cinta, solidaritas, dan persudaraan kita yang pernah ada hanya karena perbedaan ini? Dogmatis agamamu yang membenci ideologiku takkan mampu membuatku benci padamu karena bagiku apapun agama dan ideologimu, engkau adalah saudaraku. Saudara dalam hal makhluk ciptaan Tuhan.

Izinkan aku mencintai dan menghargaimu meskipun engkau berbeda denganku, karena aku mencintaimu dan menghargaimu tidak lain karena rasa cintaku pada Tuhan yang juga menciptakanmu. Tuhan bahkan tak mustahil menciptakan kita sama dalam satu ideologi dan agama. Aku tidak sanggup membencimu karena aku bahkan tidak sanggup membenci Tuhanku. Maka dari itu marilah hidup berdampingan secara harmonis.

Semoga engkau mampu menghargai pertanyaan - pertanyaan konyol dariku. Salam perdamaian.

Ket : Tulisan ini juga sebelumnya diterbitkan di ReadPublik - Bacaan Pencerah Mata Publik, dengan judul "Sekelumit Tanda Tanya".


EmoticonEmoticon