Minggu, 23 Juli 2017

Sejak Kapan Manusia Mengetahui Rasa Malu?

Kapan Pertama Kali Megetahui Rasa Malu?


Shy Picture
Sumber gambar: www.hercampus.com/

Berpikir memang sangat memiliki manfaat besar. Namun bagi penggemar filsafat, apalagi yang benar-benar berfilsafat, haruslah mengontrol aktivitas berpikirnya. Sebab, berpikir secara radikal bukan hanya menyadarkan dan menegaskan eksistensi manusia secara esensial. Namun juga akan menimbulkan gejala-gejala sakit fisikal, dan bahkan gejala sakit ini bisa saja meningkat menjadi penyakit dan akan melenyapkan eksistensinya dari kehidupan. Yah, bisa saja berujung pada kematian. 

Seperti itulah yang mungkin kurasakan saat ini. Semua badan terasa pegal, nyeri kepala yang terasa kencang, leher terasa kaku, suhu badan sedikit lebih meningkat, padahal tidak ada aktivitas berat yang saya lakukan hari ini. Dan setelah berkonsultasi dengan dokter Google, ternyata gejala fisik yang seperti itu, misalnya nyeri kepala yang terasa kencang merupakan suatu jenis nyeri kepala yang unsur psikologiknya kuat. Dan begitu pun gejala-gejala lainnya yang saya sampaikan katanya merupakan gejala yang tidak spesifik kata dokter Google.

Sehingga kata dokter Google, saya menderita gejala atau sebut saja penyakit Psikosomatis. Dokter Google mengatakan demikian setelah membuka beberapa lembar artikel dari gudangnya dan menemukan beberapa teori tentang itu. Tapi setidaknya saya memahami sedikit dari penjelasan dokter Google bahwa Psikosomatis itu sebenarnya keadaan di mana manusia merasakan gejala fisik yang berasal dari masalah psikis. 

Tapi entahlah, kata dokter Google saya tidak boleh banyak berpikir dan beristirahat dengan cukup serta memperbanyak meminum air putih. Saya merasa sedikit jengkel terhadap saran dan petunjuk dokter tersebut. Sebab ia menyuruh saya sedikit berpikir. Padahal apa yang saya pikirkan hari ini belum terjawab. Saya masih ingin memikirkan dan menganalisis pertanyaan: kapankah manusia pertama kali mengenal rasa malu? 

Bukankah kita merasa malu melakukan tingkah-tingkah yang tidak lazim bagi manusia lain di sekitar kita. Tingkah yang dianggap tidak lazim itu misalnya telanjang di depan umum atau tingkah lain yang sedikit mengandung seksualitas. Meskipun terkadang manusia melakukan itu tidak sengaja namun pada dasarnya itu pasti tetap memalukan. Dalam artian pelakunya pasti merasa malu. Meskipun mungkin hanya sedikit.

Tapi setelah berpikir, saya menarik hipotesa bahwa rasa malu yang biasanya dimasukkan dalam kategori moralitas ini tergantung pada sejarah dan norma yang ada dalam suatu lingkungan. Sebab kelaziman tingkah dalam suatu lingkungan tertentu pastilah terdapat perbedaan di lingkungan lain. Misalnya di lingkungan kaum primitif yang tidak memakai baju (telanjang) dalam menjalin interaksi sosialnya. Bukankah mereka tidak malu terhadap sesamanya? Lantas darimanakah konsepsi malu yang timbul dalam tradisi kehidupan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan itulah membuat sedikit kurang sehat kata dokter Google. Meskipun saya tidak begitu yakin pada dokter Google. Ketidakyakinanku pada dokter itu karena awalnya, saya menganggap berpikir itu bukanlah aktivitas berat yang dapat menimbulkan gejala-gejala sakit demikian. Bahkan bagi saya sakit dan penyakit seharusnya timbul karena tidak bisa melakukan aktivitas berpikir, misalnya sakit jiwa atau gila.

Meskipun sesekali saya masih memikirkan pertanyaan tersebut. Karena bagi saya, ini pertanyaan menarik sebab saya belum mengetahuinya. Belum lagi jika dikaitkan dengan filosofi budaya Siri' dari suku Bugis. Karena saya suku Bugis, maka saya tertarik memecahkan pertanyaan ini. 

Sebenarnya pertanyaan ini bukan murni persoalan suku dan budaya, namun lebih mendalam. Mungkin pertanyaan ini bisa dikategorikan dalam pertanyaan Filsafat Manusia bisa pula masuk dalam kategori Filsafat Nilai dan Etika. Yah, pertanyaan: kapankah manusia mengetahui rasa malu? Dan bagaimanakah indikasi yang bisa menyebabkan manusia merasa malu?

Jika dilihat dari kata tanya 'kapan' yang dihubungan dengan objek manusia berarti untuk menjawab pertanyaan tersebut kita mesti mengkaji dan menganalisis sejarah manusia. Sejarah manusia sebenarnya juga cukup kompleks, sebab sejarah manusia memiliki perbedaan pada masing-masing sudut pandang. Misalnya, sudut pandang agama dan sains pastilah memiliki perbedaan. Belum lagi sudut pandang yang lain.

Tapi karena saya manusia beragama, mungkin juga pembaca tulisan ini, maka kita pasti mengetahui bahwa sejarah penciptaan manusia dimulai dari Adam dan Hawa. Sebagaimana yang saya ketahui, bahwa manusia awal yang bernama Adam dan Hawa awalnya masih telanjang. Jika memang pembaca mengatakan tidak telanjang dan punya dalil tentang itu maka silakan dikoreksi. Karena saya bukan ahli sejarah, dan bukan pula ahli agama.  

Yang pasti, jika memang Adam dan Hawa saat itu masih telanjang maka apakah Adam merasa malu pada Hawa? Atau sebaliknya, apakah Hawa merasa malu pada Adam? Apakah mereka tidak merasa malu karena masih berdua? Lantas kapankah rasa malu manusia itu muncul dalam sejarah kehidupannya. Entahlah pertanyaan itu muncul jika kita memakai perspektif agama, khususnya Islam.

Sebenarnya pertanyaan ini muncul dari bincang-bincang saya dengan guru saya yang bernama Ma'ruf Nurhalis. Beliau mengatakan bahwa filsuf Sigmund Freud telah menjawab pertanyaan tersebut. Kata Ma'ruf, bahwa Sigmund Freud mengatakan rasa malu itu lahir atau muncul ketika manusia menyadari ia tidak bisa menikahi Ibunya. Apa yang dikatakan Ma'ruf itu merupakan hasil tafsirannya akan teori Psikoanalisa Sigmund Freud. Ia juga sempat mengatakan bahwa apa yang dia sampaikan tentang Freud bisa saja keliru dalam arti ia menyarankan saya untuk membaca secara langsung buku pemikiran Sigmund Freud.

Dan akhirnya setelah bincang-bincang siang itu selesai, saya pun beranjak ke toko buku Paradigma Ilmu untuk mencari buku yang berkaitan tentang pemikiran Sigmund Freud namun sayangnya stoknya habis. Akhirmya saya pun masih penasaran pada Sigmund Freud. Saya penasaran pada pemikirannya, apakah benar-benar Ia menjawab pertanyaan tersebut atau tidak?

Rasa penasaran ini akhirnya memacu saya untuk berpikir sendiri mengenai hal ini. Saya kembali mencoba bertanya pada diri sendiri "Kapankah saya mengenal rasa malu?" Tapi pertanyaan tersebut terjawab secara simpel bahwa orang tua dan orang-orang di sekelilingkulah yang mengajariku tentang malu. Meskipun saya lupa kapan pertama kali. Namun dari jawaban tersebut muncul lagi pertanyaan, lantas kapankah orang tua dan sekeliling saya mengetahui rasa malu itu? Bukankah pertanyaan ini akan terhubung sampai pada manusia yang pertama kali tercipta? 

New Tossil Cafe-Resto
New Tosil Cafe-Resto

Inilah pertanyaan yang tak pernah lepas dipikiranku setelah bincang-bincang di New Tosil Cafe dan Resto hingga kembali pulang ke rumah. Dan akhirnya, saya menumpahkan pertanyaan-pertanyaan skeptis ini di Ruang Skeptis, dalam kondisi kesehatan yang kurang sehat. Tapi semoga tulisan ini tetap menyegarkan pikiran pembaca. 

Dan terakhir, terkhusus buat pembaca Ruang Skeptis, coba anda tanyakan pada diri sendiri, "Masih ingatkah anda kapan pertama kali anda mengetahui dan merasakan rasa malu? Apakah rasa malu itu muncul dengan sendirinya atau karena nasihat orang tua tentang moralitas?"

Tulisan-tulisan di Ruang Skeptis selalu bernuansa skeptis dan mengajak pembacanya untuk bertanya dan berpikir. Maka bacalah lalu tanyakan dan pikirkan jawabannya. Semoga betah di Ruang Skeptis.
Read More

Minggu, 16 Juli 2017

Setetes Ingatan dan Sebuah Ide

Setetes Ingatan dan Sebuah Ide



Kalaliterasi
Pertemuan Perdana Setelah Liburan


Di siang hari yang terjal, terik matahari riang menukik semesta. Saya kembali menyusuri tengah kota yang tak pernah sepi meskipun hari libur. Hari ini, saya awalnya merasa bersedih, namun kemudian kesedihan itu lumpuh. Mengapa? Silakan baca sampai selesai. Sedih dikarenakan harus mengawali hari dengan perpisahan seorang teman saya di kampus yang bernama Suci Amelia.  Yah, kami merayakan kesedihan dan perpisahan di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin untuk terakhir kalinya. (Narasi tentang seputar refleksi perpisahan itu saya tulis di artikel lain).

Tepat jam 13:20, saya teringat pemberitahuan istimewa dari gurunda Sulhan Yusuf melalui Facebook untuk menghadiri Kelas Literasi Paradigma Institute (KLPI) yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal. Pertemuan ini merupakan pertemuan perdana setelah liburan panjang. Mengingat pemberitahuan literasi sekaligus undangan halal bihalal itu, saya kemudian meninggalkan Bandara Sultan Hasanuddin dengan penuh gairah, gairah untuk terlepas dari kesedihan perpisahan menuju semangat literasi. Yah, literasi bagi saya selalu saja menjadi obat bagi derita dan galaunya kehidupan. Meskipun belum cukup setahun saya nimbrung dalam dunia literasi.

Semangat ini memaksa jari-jemari untuk mengemudi lebih cepat. Pikiranku hanya terpusat pada “apakah saya bisa tiba tepat waktu di markas Paradigma Institute sebagaimana pukul 14:00 sebagai ketetapan?”. Di perjalanan, semakin lambat kendaraan melaju semakin membuat saya menyadari bahwa kota Makassar yang katanya kota dunia ternyata hanyalah kota yang amat muram. Kemuraman itu tampak di antara motor-motor kusam dan mobil-mobil buram dengan dedebuan. Yah, kemacetan selalu saja menjadi hal yang menyebalkan.

Tetapi di balik semua suasana menyebalkan yang saya temui di Kota Daeng ini—termasuk kemacetan, saya menemukan suasana taman surga yang mampu menghapus stigma kota menyebalkan tadi. Taman surga itulah yang serasa membuat saya betah di Kota Makassar ini. Janganlah memaknai taman surga sebagai tempat, objek, atau hal-hal yang berbau material. Sebab, taman surga yang saya kemukakan di sini bersifat immaterial yang tak lain adalah suasana riuh dan gemuruh oleh semangat literasi, itulah taman surga yang saya dapatkan di kota ini.

Meskipun sedikit terlambat, akhirnya saya bersyukur bisa tiba dengan selamat dan tentunya ikut nimbrung dalam pertemuan kelas literasi Paradigma Institute. Ada beberapa ingatan yang muncul dari pertemuan itu dan akhirnya menetes ke tulisan ini, di antaranya persoalan dunia literasi. Perjumpaan yang kembali kami gelar mengingatkan saya pada kelahiran di dunia literasi. Saya masih mengingat dan akan selalu teringat, hari itu adalah hari Minggu tanggal 19 Februari 2017. Hari itu, pertama kali saya menginjakkan kaki di serambi surga ini, Toko Buku Paradigma Ilmu. Entah bagaimana bisa, karena bahkan, saya pun sebelumnya tidak pernah berpikir akan mengenal yang namanya dunia literasi. Saya hanya bermodalkan rasa ingin tahu sehingga bisa berjumpa dengan tempat yang mencerahkan ini.

Kelas Literasi Paradigma Ilmu Angk. 3
Kelas Literasi Paradigma Ilmu (KLPI) Angk.3

“Orang yang hidup melata di muka bumi ini tanpa mengenal dunia literasi adalah wujud lain dari kematian”. Itulah sabda gurunda Sulhan Yusuf yang merasuki jiwa ini kala kali pertama saya bertandang ke kelas literasi Paradigma Institute. Dan hari ini, di pertemuan itu, semua yang menjadi langkah awal dalam dunia literasi kembali teringat, dan ingatan itu seolah-olah kemarin sore. Tapi tidak salah, saya memang anak kemarin sore di dunia literasi. Dunia berhias pesona, dunia tanpa batas cakrawala, dunia beragam paradigma, dunia tanpa dosa-dosa dan kebencian, itulah dunia literasi.

Yah, pertemuan kelas literasi perdana setelah berlibur panjang mengingatkanku kembali dengan sejarah itu. Rak buku yang menampung ribuan buku selalu saja menjadi cermin ketika kutatap. Ia selalu saja menampakkan wajahku kala pertama kali berjumpa, dan ketika itu pula semuanya teringat. Dan yang paling penting, ingatan itu acap kali menamparku dan berkata “Kau anak kemarin di sini, kau tak malu dengan dirimu sendiri?” Yah, aku ingin sekali berdiri dengan lancang, memberontak, dan sesekali menyela pandangan sinis buku-buku di rak itu, menunjuknya dengan telunjuk lalu berkata “Kau berbicara tentang ‘Aku’, Aku bukanlah Aku yang dulu, tapi Aku yang sekarang. Apa salah jika Aku baru berumur kemarin?” Entahlah.

Selain persoalan kelahiran di dunia literasi, saya juga mendapatkan sepercik ide. Ide ini berupa tips yang ampuh bagi saya sebagai anak kemarin dan pecinta buku. Yah, ini persoalan mencintai buku-buku. Cinta memang selalu ada di mana saja, bersemayam di singasana sang pecinta, bersembunyi di balik laci sang koruptor, menempel di serpihan sandal tukang parkir dan bahkan terselip dalam rak-rak buku kumuh di sebuah rumah. Yah, perjumpaan saya dengan gurunda Sulhan Yusuf tadi memberikan saya pelajaran tentang cinta pada buku. Salah satu bentuk kecintaan kita pada buku adalah membaca dan mengoleksinya.

Awalnya, gurunda mengungkap dengan tuturnya, cara yang ia lakukan sehingga bisa memiliki ribuan buku di markasnya. Ia mengakui melihat postingan foto koleksi buku saya di Facebook, dan mungkin karena itu, ia pun mencibir tentang postingan itu, dan tibalah saya pada pertanyaan mengapa gurunda bisa memiliki buku sebanyak ini? Saya merasa terkesan dengan tips dan cara seorang mahasiswa mengoleksi buku yang di utarakan oleh gurunda. Inilah yang unik. Nah, untuk mengetahui tipsnya maka silakan berkunjung ke Toko Buku Paradigma Ilmu. Jangan lupa beli buku!!! 
Read More

Senin, 03 Juli 2017

Filosofi Oleh-Oleh 1

Filosofi Oleh-Oleh 1


Filosofi Project
Filosofi Oleh-Oleh 

Hari ini, pekan ini, dan bulan ini serta tahun ini adalah rentang waktu perjalanan. Waktu yang dihiasi dengan kata mudik-balik, dihiasi dengan berbagai perjalanan. Hampir semua orang yang memiliki kampung halaman telah melakukan aktivitas mudik. Setelah mudik suatu saat dilanjutkan dengan aktivitas balik. Bukankah aktivitas mudik-balik adalah perjalanan?

Perjalanan bukan hanya untuk mereka yang memiliki kampung halaman. Bagi mereka yang tidak memiliki kampung halaman biasanya menghabiskan waktu mereka dengan berlibur ke sana kemari. Berlibur ria dengan mengunjungi berbagai tempat wisata. Nah, bukankah untuk mengunjungi suatu tempat wisata diperlukan aktivitas perjalanan?

Hingga saya pun tidak bisa menahan diri untuk ikut melakukan perjalanan, mudik-balik. Meskipun sejatinya hari-hari yang kulalui selalu dengan perjalanan. Dan akhirnya pada beberapa hari yang lalu dalam suasana merangkai perjalanan saya menulis status di beranda Facebook tentang perjalanan. Dan berkat status itu saya mendapatkan sebuah pelajaran spiritual bahwa "setiap perjalanan butuh oleh-oleh". Status tersebut seperti pada gambar di bawah:

Andi Alfian
Sumber Gambar : www.facebook.com

Pada status yang tertulis di beranda Facebook saya--sebagaimana yang ada di atas, menuai komentar dari kanda saya, Ma'ruf Nurhalis. Komentar tersebut membuat saya merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik komentar itu. Komentar tersebut kurang lebih berbunyi:
Dan sebaik-baik pejalan adalah yang membawa oleh-oleh" - Ma'ruf Nurhalis.
Pada kali pertama saya membaca komentar tersebut serasa biasa saja. Namun hari ini, kala saya mendapati diri saya dalam keadaan dijatuhi tagihan oleh-oleh dari kawan-kawan di kampus membuat saya merenung. Aktivitas renungan ini membuat pikiran berlabuh pada sebuah ingatan, yakni ingatan saat membaca komentar di atas. Dari satuan kalimat tersebut (dan sebaik-baik pejalan adalah yang membawa oleh-oleh) yang paling teringat adalah penggalan kalimat 'membawa oleh-oleh'. 


Saya terdiam dan mulai bertanya: apakah saya yang setiap saat melakukan perjalanan telah membawa oleh-oleh? Apakah saya telah melakukan perjalanan yang sia-sia karena tak mampu membawa oleh-oleh? Manakah oleh-oleh yang kubawa dari perjalananku? Apakah ada oleh-oleh yang kubawa untuk kawan-kawanku? Jikalau saja tidak ada untuk kawan-kawanku, apakah ada oleh-oleh untuk diriku sendiri? Pertanyaan-pertanyaan skeptis inilah yang menabrakkan dirinya di pelipisku hingga memaksaku menulis.

Jika kita ingin mendapati makna oleh-oleh sebagai hal paling esensial maka caranya adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif di atas. Inilah yang penting. Sebagai manusia pencari oleh-oleh, kita perlu memahami apa makna oleh-oleh yang sebenarnya. Sehingga oleh-oleh yang kita cari dengan mudah kita raih dengan cara yang filosofis.

Oleh-oleh hanyalah sebuah kata. Kata biasanya menunjukkan konsep atau makna tertentu. Nah, inilah yang sebenarnya dapat menipu. Konsep atau makna menipu yang dimaksud adalah di saat kita memahami sebuah kata sebagai sesuatu yang tetap. Misalnya pemahaman kita terhadap kata Alfian sebagai nama saya.

Kata Alfian melukiskan paham seolah Alfian itu tetap. Meskipun Alfian itu semakin menua, kulitnya semakin keriput, rambut semakin memutih, wajah semakin ganteng, dan sebagainya, Alfian tetaplah saya. Padahal sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa segala sesuatu melakukan perjalanan. Perjalanan dalam hal ini perubahan. Sehingga apakah Alfian adalah sesuatu yang tetap? Tentu tidak. Alfian terus berubah. Alfian kemarin bukanlah Alfian yang hari ini dan seterusnya.

Begitu pun dengan kata oleh-oleh. Kita tertipu pada kata ini. Kita memaknai oleh-oleh sebagai makna sesuatu yang tetap. Kita memaknai oleh-oleh hanya sebagai benda atau sesuatu yang dibawa  pulang oleh para pejalan. Padahal esensi oleh-oleh bukanlah hanya persoalan benda namun persoalan hasil dan capaian. Perjalanan yang dilakukan tanpa capaian adalah perjalanan yang kerontang nan gersang.

Karena hidup selalu tentang perjalanan maka oleh-oleh selalu bermakna perubahan. Yah, 'kehidupan tanpa perjalanan adalah kematian'. Namun ada hal yang harus diperhatikan, bahwa ada perjalanan yang tidak layak dijalani. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sokrates bahwa 'hidup yang tanpa perenungan tak layak dijalani'. Maka begitupun perjalanan. Untuk menuai permata suci dari perjalanan kita yakni oleh-oleh, diperlukan ruang renungan, diperlukan ruang filosofis, diperlukan ruang skeptis.

Ruang di mana kita kembali bertanya "Apa oleh-olehku?"

Bersambung....!!! [Filosofi Oleh-Oleh 2].

Tulisan ini merupakan tulisan bersambung yang berjudul "Filosofi Oleh-Oleh". Tulisan ini merupakan tulisan pertama dalam label Filosofi Project yang ada di Ruang Skeptis. Oleh karena itu, selaku pembaca yang bijak tetap berkelana di ruang skeptis ini sebab tulisan-tulisan yang berbau filosofi akan selalu hadir di Ruang Skeptis.
Read More

Selasa, 20 Juni 2017

Mengapa Manusia Mengenang Masa Lalu?

Mengapa Manusia Mengenang Masa Lalu?


Mengenang Masa Lalu
Sumber Gambar: Puisi.co

Di pagi yang mendung, di atas pemukaan kosmos nan luas, gerimis menyihir embun menjelma menjadi gumpalan-gumpalan air. Angin enggan menjadi badai, ia hanya terdiam dalam hening. Mentari enggan bersinar seolah takut manyapa, padahal awan kelam telah menantinya di pelupuk mata. Pagi ini kurang cerah!

Lalu kubuka media sosial--Facebook, kuharap ada yang cerah di sana. Walhasil saya mendapati setumpuk kenangan yang Facebook bagikan tepatnya dua tahun silam. Kenanganku di masa lalu, masa yang semakin menjauh. Aku menyadari itu. Hingga kutulis semua masa lalu agar semuanya tetap ada dalam aksara keabadian. 

Keabadian bagi manusia adalah kefanaan, itu hanyalah ungkapan opinial dari saya. Namun akan ada apresiasi tersendiri untuk Facebook, ia mampu merangkai kenangan di setiap harinya. Hingga keabadian pun mulai tampak pada kenangan, meskipun kian akan terlupakan.

Untuk itu, inilah setitik apresiasi buat Mark Zuckerberg yang telah meluncurkan Facebook sehingga kubisa memantik kembali makna masa lalu. Yah, apresiasi untuk Mark Zuckerberg, yang telah memberikan ruang bagi semua penggunanya untuk menyimpan kenangan di karyanya itu--Facebook.

Bagaimana mungkin kita merasakan manfaat pada sebuah karya dengan begitu saja tanpa apresiasi? Bukankah itu merupakan kekufuran terkecil di dunia maya khususnya terhadap Facebook? Mungkin setidaknya menulis sepatah kata di beranda Facebook adalah bagian pengugur kekufuran media sosial. Entahlah itu hanyalah guyonan, dan mungkin saja seabad ke depan semua itu akan menjadi guyonan, ketika manusia tak lagi mempercayai kekufuran.

Terima kasih juga buat kenangan yang tetap saja setia merayap di laman Facebook seolah-olah tidak ingin meninggalkan masa kiniku. Tapi apalah arti rayapan jikalau masa lalu tetap saja merupakan hal yang paling jauh dari masa kini manusia. Yah, seperti itulah yang disampaikan sang guru intelektual, Al-Gazali.

Berawal dari kenangan yang Facebook bagikan, sebagai manusia yang penuh rasa skeptis, melahirkan sebuah pertanyaan "Mengapa manusia mengenang masa lalu?" Yah, mengapa mesti mengenang masa lalu? Bukankah kata Inul Daratista dalam lagunya mengatakan masa lalu hanya akan membuat cemburu?😂

"..Masa lalu biarlah masa lalu,
Jangan kau ungkit, jangan kau ingatkan aku
Masa lalu biarlah masa lalu
Sungguh hatiku tetap cemburu..."

Seperti itulah penggalan lirik lagu Inul berjudul "Masa Lalu". Yang dapat saya pahami dari lirik tersebut adalah seolah akan bermakna kesedihan jika kita ingin mengungkap masa lalu. Entahlah, itu hanyalah sebuah lagu. 

Jauh dari itu saya ingin mengeluarkan beberapa dialektika bahwa bisakah kita mengenali orang lain dengan masa lalunya? Bisakah masa lalu dihapus dari pola pandangan manusia? Ataukah masa lalu itu adalah gambaran kefanaan sekaligus kefakiran manusia terhadap keabadian?

Saya teringat sorang filsuf bernama Jonathan Black mengatakan bahwa dengan mengingat apa yang kita lakukan kemarin, kita bisa mengenal diri kita sendiri sebagai seseorang yang melakukan hal-hal yang telah lalu. Sehingga jika saya tafsirkan bahwa masa lalu bisa menampilkan identitas seseorang meskipun dalam lingkup di masa lalunya--bukanlah masa kini. 

Tapi, apakah masa kini tidak dipengaruhi oleh masa lalu? Menurut saya, pasti masa lalu berdampak atau mempengaruhi masa kini. Hal ini juga dikemukan oleh Jonathan bahwa salah satu hikmah dari masa lalu adalah apakah kita bisa lebih kuat atau kita malah lebih lemah. Dengan demikian, masa lalu tentulah memiliki implikasi pada masa kini. 

Jawaban apakah kita merasa lebih baik atau lebih kuat itu berasal dari pertimbangan dan perbandingan masa kini dan masa lalu. Sehingga sebagian manusia meyakini bahwa masa lalu juga merupakan penentu masa kini. Atau dengan kalimat lain yang lebih pragmatis bahwa tidak mudah masa kini hadir tanpa masa lalu. Meskipun ada para pemikir sufistik yang berpendapat bahwa masa lalu tiada yang ada hanyalah masa kini. Mengenai pendapat tersebut nanti kita bahas di artikel selanjutnya.

Kesimpulannya, mengenang masa lalu adalah sebuah tahapan filosofis manusia di mana ia kembali merefleksi dan menata resolusi masa depan yang lebih cerah melalui jendela masa lalu. Sebab ada pepatah mengatakan "Hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali". Maka dari marilah mengenang masa lalu dengan cara filosofis-dialektis agar menghasilkan resolusi masa depan yang lebih cerah.

"Ruang Skeptis akan selalu ada dalam dada manusia selama kata tiada tetap ada" - Andi Alfian.

Read More

Senin, 19 Juni 2017

Bagaimana Menyikapi Perbedaan Dengan Bijak?

Bagaimana Menyikapi Perbedaan Dengan Bijak?

Sumber Gambar : http://www.quotationof.com/

Tulisan ini merupakan opinial skeptis yang berusaha menanggapi  dan menafsirkan tulisan pendek nan bijak kakandaku Kamal Elfiky yang dipublikasi di Facebook seperti pada gambar di bawah. Status tersebut kurang lebih bernada skeptis sehingga wajarlah tukang pikir di Ruang Skeptis tidak ingin ketinggalan dalam memberikan tanggapan sehingga terjadi dialektika skeptis. 

Sumber Gambar : www.facebook.com

Tulisan singkat (status) Kamal Elfiky di atas memberikan indikasi bahwa ia sangat cerdas dalam menyikapi perbedaan. Tentu ini relevan dengan tingkat keilmuan yang beliau miliki. Secara luas makna yang dapat dilihat dari tulisan singkat (status) tersebut adalah niscayanya sebuah perbedaan. Namun dibalik perbedaan yang tampak, ada kemungkinan di antaranya terdapat kebenaran. Sebagaimana tertuang dalam kalimat di atas: "yah mungkin saja ada yang benar".

Setelah mencoba memahami tulisan singkat (status) tersebut saya merasa sepertinya saya sering mengalami dialektika skeptis demikian. Sehingga dengan cepat saya mengomentari dengan nada sepakat dan melampirkan gambar yang berisi tentang motto sebagai argumen visual yang memberi makna bahwa "saya sangat sepakat dengan tulisan kakanda". Gambar itu berisi tentang motto atau semacam ungkapan pendek mengenai sisi cinta dalam kehidupan saya.

"Aku sangat mencintai perbedaan hingga kuterlihat berbeda" - Andi Alfian.

Seperti itulah isi gambar yang saya lampirkan dalam komentar tersebut. Kanda Kamal pun membalas komentar dengan paradigma yang berbeda seperti yang ada di gambar di bawah. Silakan tafsirkan komentar singkat yang halus ini dengan bijak. Ingat!!! Tafsirkan dengan bijak bukan mengajak orang saling menginjak atau Anda menginjak.😁

Sumber Gambar : www.facebook.com

Setelah mendapatkan balasan komentar yang sangat halus dan bergizi di atas saya merasa enggan lagi berkomentar. Namun setelah saya menghayati komentar tersebut, makna yang tersirat seolah mengatakan pada saya bahwa jika seseorang tidak bisa menyikapi perbedaan dengan dialektika yang kontraversial maka biasa saja, yah biasa saja. Dan makna itu saya dapatkan dari kata "Tidak ada yang 'wah' dari itu".

Sebelum lanjut pada pembahasan bagaimana kemudian saya menanggapi komentar di atas, ada baiknya jika kita bertamasya ke taman filsafat. Di taman ini acapkali ditemukan sangat banyak dialektika perbedaan, sangat banyak dialektika skeptis, dan tentunya itu relevan dengan artikel ini meskipun pembahasan kita ini hanya pada kolom komentar status Facebook bukan taman agave.😀

Karena motto saya di atas bisa saja menghasilkan perbedaan penafsiran, sehingga membuat saya merasa wajarlah jika kanda Kamal Elfiky menanggapi motto itu dengan nada tak sepakat atau mungkin dengan niat memberikan pencerahan--tentunya itu adalah niat baik. Hal itu memang tidak dapat dimungkiri sebab barangkali cara tafsirnyalah yang berupa pola ideal yang ia gunakan membuat pemandangan pada untaian kata itu berbeda.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang filsuf terkemuka yang berasal dari kota Intelektual, Yunani. Filsuf tersebut bernama Plato, ia berpendapat bahwa manusia tidak menemukan kebenaran atau mengalami kekeliruan dalam wujud keseluruhan yang utuh, tetapi dalam wujud parsialnya. Plato mengibaratkan beberapa orang buta yang memperoleh kesan tentang seekor gajah di saat masing-masing meraba anggota tubuhnya. Masing-masing berpendapat sesuai dengan objek yang ditangkapnya, sekaligus menyatakan bahwa yang lain keliru terhadap bentuk gajah dengan berpegang pada sebagaimana gajah yang ia pahami

Begitu pula tafsiran saya dan tafsiran kanda Kamal terhadap motto itu, bisa saja kita berbeda pada bagian apa yang kita raba dari yang kita tafsir sehingga memunculkan perbedaan. Karena saya masih tetap percaya bahwa sangat banyak perbedaan pendapat yang disebabkan oleh perbedaan pola pikir meskipun dengan objek kajian yang sama. Misalnya pendapat kanda Kamal mengatakan mencintai perbedaan itu hanya membuat distingsih bahwa kitalah yang paling benar. Namun bagi saya ada yang tak di sorot oleh kanda Kamal. Di sini saya tidak mengatakan objek yang dikaji kanda Kamal berbeda dengan yang saya maksud. Namun bisa saja perbedaan itu berasal dari pola pikir kita.

Pola pikir berpotensi membuat kita berbeda pendapat sebab pola pikir sangat dikendalikan oleh wawasan yang kita miliki. Artinya perbedaan kita menafsirkan atau memikirkan bisa saja muncul dari perbedaan kecenderungan pengetahuan kita. Misalnya perbedaan pemikiran filsafat yang di kemukakan oleh William James bahwa sesungguhnya sejarah filsafat adalah sejarah pertentangan antar kecendrungan yang berbeda-beda. perbedaan kecendrungan itu berpengaruh di dalam lapangan sastra, seni dan filsafat. Sehingga perbedaan kecenderungan dan kapasitas intelektual sudah pasti akan menyebabkan perbedaan. 

Dan dalam Rasa’il Ikhwan al Shafa di tuliskan bahwa “Anda akan menemukan banyak manusia yang baik imajinasinya, tajam pengamatannya dan kuat ingatannya; banyak pula yang lemah dalam berpikir, buta hati dan lemah ingatannya. Ini juga merupakan salah satu penyebab para ulama berbeda pendapat dan mazhab. Apabila kapasitas intelektual mereka berbeda, maka pemikiran dan keyakinan mereka akan berbeda.” Pernyataan di atas menurut saya sangatlah benar sebab, tentu seorang sastrawan dalam mengungkapkan rasa puitisnya berbeda dengan seorang matematikawan.

Namun saya tidak ingin jauh mengungkap keniscayaan perbedaan sebab saya sendiri sangat cinta perbedaan. Saya  mengatakan "Saya sangat mencintai perbedaan" karena seperti itulah yang terbaik bagi saya menyikapi perbedaan. Bukan pada bagaimana mengatakan "Tidak" terhadap perbedaan yang menurut kanda Kamal "Tidak ada yang wah". Mengapa saya tidak langsung saja dengan mudah mengatakan "Kita berbeda", sebab apabila perbedaan disikapi sebagai keniscayaan dan sebagai karunia kebersatuan tentunya akan tampak keharmonisasian. 

Yah, cintailah perbedaan sebagaimana Thomas Kuhn menegaskan teori Paradigmanya demi perbedaan, yang tentunya dengan teori itu ia mampu memberikan sumbangsih revolusi ilmiah di zamannya. Dan selain itu pula, saya pikir harmonisasi akan tampak jika perbedaan dapat disikapi dengan bijak. Menurut saya mungkin makna perbedaan seperti itulah yang pernah dipikirkan Socrates, sehingga ia berkesimpulan bahwa 'apabila sebab perbedaan pendapat sudah diketahui dengan jelas, maka perbedaan itu akan hilang'.

Artikel ini ditulis dengan tergesa-gesa, karena menjelang memasuki ruang kuliah, jadi jika ada salah ketik dan alur tulisan yang kurang silakan dikoreksi. Tentu kepada kanda Kamal, ini hanyalah tulisan tanda kesepakatan bukan kritikan. Bukan berarti saya takut mengkritik tapi saya takutnya dikatakan "Sok mengkrittik hehe".😀
Read More

Sabtu, 17 Juni 2017

Bagaimana Indikasi Manusia Dikatakan Berintelektual?

Bagaimana Indikasi Manusia Dikatakan Berintelektual?


Kesombongan Intelektual
Sumber Gambar : www.buzzle.com

Tulisan ini merupakan tanggapan (antitesis) dari tulisan singkat (status) atau hasil pemikiran yang tulis oleh salah seorang pemikir di jurusan Aqidah Filsafat yang bernama Ma'ruf Nurhalis di beranda Facebooknya. Beliau mengatakan bahwa: "Tanda kita intelektual adalah seringnya kita menggelengkan kepala atau sering berkata 'Tidak!'. Bukan ngangguk dan rajin berkata 'Iya'"

Ma'ruf Nurhalis
Sumber: www.facebook.com

Seperti gambar yang ada di atas, karena besarnya makna yang tersirat sehingga tulisan tersebut menjadi sangat populer. Dalam waktu 22 menit setelah dipublikasikan mendapatkan banyak tanggapan yakni mencapai 4 tanggapan. Membuat saya merasa tidak ingin ketinggalan menanggapinya. Jika anda tidak percaya silakan cek falsifikasinya di Facebook.

Topik tulisan singkat (status) tersebut adalah indikasi intelektual seseorang. Sebelum mengkritik ide tersebut mari kita jabarkan makna intelektual. Karena perbedaan bisa saja terjadi karena didasari oleh pisau analisis dan cara menganalisis kita berbeda. Oleh karena itu, menjelaskan makna intelektual terlebih dahulu akan memudahkan kita untuk memahami batasan intelektual mana yang akan kita bahas.

Intelektual dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cerdas, berakal, dan berpikir jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Selaku manusia yang berfilsafat defenisi demikian sangatlah dangkal, sebab tak menguraikan esensi intelektual itu sendiri. Dalam hal ini defenisi demikian di atas masih bisa menimbulkan pemaknaan yang diarahkan pada non-intelektual.

Sedangkan menurut Julien Benda dalam buku La Trahison Des Clercs (1927), bahwa inteletual itu adalah pejuang kebenaran dan keadilan, tekun dan menikmati bidang yang digelutinya, tidak ditunggangi ambisius materi dan kepentingan sesaat. Berani keluar dari sarangnya untuk memprotes atau melawan ketidakadilan dan menyuarakan kebenaran walaupun dengan resiko yang besar. Berdasarkan pandangan tersebut Julien berusaha mengungkap bahwa seseorang dikatakan berintelektual itu jika ia mampu berlaku seperti Socrates, Yesus.

Wacana tentang indikasi intelektual manusia juga di analisis oleh seorang sosiolog bernama Regis Debray. Menurut Debray kaum intelektual itu dibagi menjadi tiga generasi yakni pertama, generasi 1900-1930 yang terdiri dari para pengajar (teachers). Kedua, generasi 1930-1960 meliputi para penulis (writers, novelist, essayist). Ketiga, generasi 1960-sekarang. Generasi ketiga ini, Debray menyebutnya sebagai "Cendekiawan selebritis". Artinya orang yang berintelektual adalah mereka yang bisa tampil di media massa yang memiliki pengaruh, pesona, sensasional bagi orang banyak.

Sedangkan bagi Antonio Gramsci, seorang filsuf italia, penulis, dan juga marxism. Ia mengemukakan bahwa intelektual terdiri dari dua wilayah, yakni wilayah teori (intelektual tradisional) dan menghubungkannya dengan realitas sosial (intelektual organik). Intelektual organik dalam hal ini merupakan intelektual yang dengan sadar dan mampu menghubungkan teori dan realitas sosial yang ada dan ia bergabung dengan kaum revolusioner untuk men-support dan meng-counter hegemoni pada sebuah transformasi yang direncanakan.

Seperti itulah beberapa pandangan pemikir mengenai manusia berintelektual, tentunya itu menjadi wacana awal untuk melanjutkan analisis kita terhadap tulisan ringkas (status) Ma'ruf Nurhalis di atas. Karena pemikiran dari beberapa pemikir di atas bersifat revolusioner dan sangat teoritis, maka saya pribadi ingin mengeluarkan hasil telaah terhadap indikasi seseorang dikatakan berintelektual. Fenomena yang akan saya katakan sangat sering dijumpai karena bersifat empirikal dan tentunya indikasi intelektual yang ada di dunia kampus khususnya kampus yang katanya kampus peradaban, UIN Alauddin Makassar.

Jika salah satu pemikir yang berasal dari kampus yang katanya kampus peradaban tersebut mengatakan bahwa seseorang dikatakan berintelektual apabila ia sering dengan mudah mengatakan 'Tidak' atau sering kita menggelengkan kepala. Namun menurut saya indikasi intelektual seseorang tidak bisa hanya dipandang demikian, dan bahkan harus lebih dari itu. Cara kita memandang dan mengategorikan kaum intelektual harus lebih substansial.

Misalnya dosen dalam hal ini Guru Besar (profesor), akan dengan mudah mengatakan 'Tidak' ketika terlontar kalimat pertanyaan yang bernada menyarankan dan bahkan langsung menolak jika terdapat argumen mahasiswa yang berbeda dan menyudutkannya--meskipun tidak semua guru besar demikian. Menolak dan mengatakan dirinya lebih berintelektual adalah kesombongan intelektual tingkat dewa. Dan inilah yang menjadi pertanyaan: Apakah manusia yang dengan mudahnya menolak pendapat orang lain dengan rasa fanatis dan rasa gengsi bahkan sampai menjatuhkan orang lain tanpa rasa hormat, itu dapat dikatakan berintelektual? Tentu tidak.

Maka dari itu, bagi saya manusia yang berintelektual adalah mereka yang tidak dengan mudah mengatakan 'Tidak' atau dengan mudah mengatakan 'Ya', sebab selaku manusia yang berintelektual ia sudah pasti berlaku layaknya padi. Ia seharusnya berlaku sebagaimana petuah mengatakan "Padi semakin berisi semakin tunduk". Bukan sebaliknya, sebagaimana analogi yang diungkap oleh Tan Malaka "Padi tumbuh tak berisi".

Dengan demikian, ketika ia tidak dengan mudah mengatakan 'Tidak' atau pun 'Ya' maka terlihat bahwa aksiologi dari pengetahuan yang ia miliki telah terealisasi secara mendalam. Tidak dengan mudahnya menampakkan kesombongan intelektual. Yah, kesombongan intelektual yang pada dasarnya tak layak disebut sebagai kaum intelektual.

Jawaban-jawaban tersebut merupakan hasil analisis saya terhadap dunia kampus. Setelah saya menilik kampus yang dijadikan panggung sandiwara, ternyata karakter suci yang berperan di kampus itu dimainkan oleh para manusia dengan kesombongan intelektual tingkat dewa. Lantas wajarlah virus-virus kesombongan intelektual juga merembes pada para penonton sandiwara. Mungkin contohnya sebagaimana tersirat dalam tulisan singkat (status) yang ditulis oleh Ma'ruf Nurhalis. Selain itu, hipotesa saya bahwa tulisan ini juga telah terinfeksi virus kesombongan intelektual.

Tentu tujuannya agar dengan menampilkan wajah dan karakter kesombongan intelektual di tulisan ini diharapkan pembaca dapat tersadar bahwa di sekeliling kita, kesombongan intelektual telah merebak di mana-mana, mulai dari serpihan sandal jepit tukang parkir sampai pada lirikan sang ajudan penguasa. Dengan kata lain orang Makassar mengenalmya dengan kata "Orang Sotta".😂
Read More

Mengapa Manusia Menginginkan Kebahagiaan?

Mengapa Manusia Menginginkan Kebahagiaan?


Gambar Bahagia
Sumber Gambar : https://www.flickr.com/photos/johnorie/12653348505

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari, kita sering kali, melontarkan kalimat "Aku ingin bahagia", "Yang penting kita bahagia", "Mari hidup bahagia!", dan berbagai argumen yang merupakan alasan-alasan yang terkadang bermakna pragmatis bagi kehidupan. Padahal kita belum pernah mengeksplorasi esensi kata 'bahagia' itu sendiri. Kebahagiaan bukanlah hal asing bagi kehidupan manusia. Sebab kebahagiaan ini bahkan telah menjadi dambaan dan impian oleh setiap manusia yang berpikir dengan akal sehatnya.

Kebahagiaan seolah harga yang tak dapat ditukar dengan barang apapun. Nilai kebahagiaan yang sangat berharga ini terkadang membuat orang beranggapan bahwa kebahagiaan itu harus diraih meskipun dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Namun di sisi lain, terdapat sebagian orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu ketika kita mampu menyalurkan cinta dan membuat banyak orang bahagia. Menyaksikan fenomena ini, menjebak kita dalam dialektika Ruang Skeptis ini.

Yah, kebahagiaan. Tema yang terkadang dianggap hal yang kompleks dan terkadang pula dianggap sebagai hal yang sangat simpel. Mengapa demikian? Apa sih itu kebahagiaan? Kapan manusia dikatakan bahagia? Mengapa manusia butuh bahagia? Siapakah pemberi kebahagiaan itu? Apakah bahagia sesimpel kata mereka yang pragmatis atau serumit kata mereka yang pesimis? Dan berbagai pertanyaan skeptis lainnya yang ketika terjawab akan membuat kita tersadar atas makna kebahagiaan secara esensial.

Gambar Bahagia
Sumber Gambar : https://www.sobatask.net/

Apa itu kebahagiaan?

Kebahagiaan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata 'bahagia'. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram (bebas dari segala yang menyusahkan). Menurut saya kebahagiaan adalah kepuasan intelektual (batin) yang merupakan capaian dari berbagai potensi-potensi manusia dalam kehidupan. Jadi dengan defenisi itu, dapat menjawab masalah-masalah kebahagiaan yang tak kunjung dijumpai oleh orang-orang yang memiliki segalanya namun tak merasakan kebahagiaan.

Karena kebahagiaan bukanlah seberapa banyak istri yang anda miliki, bukan seberapa banyak mobil mewah yang dimiliki, bukan seberapa tinggi pangkat dan jabatan yang diraih. Namun kebahagiaan bagi saya adalah dimensi intelektual (batin) dalam merasakan kepuasan (syukur) terhadap yang dimilikinya yang mungkin saja tidak dimiliki oleh orang lain.

Menurut Andi Afandi Syam, mahasiswa di jurusan Perbandingan Agama UIN Alauddin Makassar mengatakan bahwa bahagia itu simpel dan relatif-universal. Bahagia itu simpel, karena kebahagiaan menurut beliau tergantung pada otoritas dan pandangan kebahagiaan individu seseorang. Misalnya, ketika seseorang mendambakan seorang pujaan hati untuk menjadi permaisurinya (istri), memiliki mobil mewah, rumah yang megah, pangkat yang tinggi dan lainnya maka kebahagiaan orang tersebut adalah ketika ia mampu mendapatkan atau merealisasikan harapan-harapannya tersebut.

Sedangkan menurut Sainal Abidin, mahasiswa di jurusan Filsafat Agama UIN Alauddin Makassar mengatakan bahwa kebahagiaan itu adalah ketika keinginan dalam pikiran dan perasaan menyatu dan terwujudkan dalam realitas. Dari pandangan kanda Sainal saya merumuskan bahwa kebahagiaan itu perpaduan antara apa yang kita pikirkan dengan perasaan kita yang kemudian menjadi sebuah realita. Nah apabila kesatuan harapan ini telah menjadi realita dalam kehidupan maka di sanalah kebahagiaan itu menampilkan eksistensinya.

Bahagia
 Sainal Abidin : Ilustrasi siklus epistemologi kebahagiaan

Diagram di atas merupakan sirkulasi munculnya kebahagiaan menurut Sainal Abidin. Harapan yang terakumulasi dari dua sumber yakni akal (pikiran) dan hati (perasaan) kemudian terwujud menjadi realita dalam kehidupan. Namun yang menjadi salah satu pengontrol dan pendorong dari terwujudnya akumulasi harapan tersebut adalah nafsu. Nafsu memiliki dua sisi yakni mendorong dan memotivasi pencapaian kebahagiaan dan juga di sisi lain bisa saja menjadi penghambat terwujudnya kebahagiaan.


Kapan seseorang dikatakan bahagia?

Pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang beragam tentunya berasal dari berbagai pandangan. Ada sebagian orang berpandangan bahwa manusia dikatakan bahagia ketika ia mencapai apa yang ia cita-citakan dalam hidupnya. Dia dikatakan bahagia karena hal yang dicita-citakannya itu merupakan hal yang membuatnya terbebas dari segala kesusahan dan penderitaan. Namun ada pula beberapa orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu merupakan hal yang sangat dalam dan bahkan hanya mampu mencapainya pada area sakral yakni kematian. Karena menurut beberapa orang ini (sufi) kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan non-material. Sehingga orang dikatakan bahagia ketika ia mampu terbebas pada material, dan salah satu caranya adalah mengalami kematian.


Bagaimana tingkatan kebahagiaan manusia?

Menurut saya tingkatan kebahagiaan manusia berbanding lurus dengan pengetahuan dan kesadarannya. Menurut saya ada tiga tingkatan kebahagiaan berdasarkan tingkat pengetahuan esensial manusia, yakni kebahagiaan tingkat pertama, kebahagiaan tingkat menengah, dan kebahagiaan tingkat atas.

Kebahagiaan tingkatan pertama adalah tingkatan kebahagiaan materialis. Kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan yang dangkal diantara tingkatan kebahagiaan yang ada. Mengapa hal ini juga termasuk dalam kebahagiaan? Karena tidak dapat dimungkiri bahwa terdapat sebagian orang yang merasa bahagia ketika memiliki banyak materi berupa harta. Yah, orang bisa saja merasa bahagia dengan segala sumber material yang dimilikinya namun bagi saya itu hanyalah kebahagiaan yang dangkal.

Kebahagiaan tingkatan kedua adalah kebahagiaan yang berada pada tahapan kepuasan intelektual manusia. Kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan tingkat menengah dan biasanya dicapai oleh orang-orang yang taraf intelektualnya di atas orang awam. Pada tingkatan kebahagiaan ini, dalam memandang realita dunia, manusia tidak lagi mementingkan material namun lebih pada kesadaran dan kepeduliannya terhadap sesama sebagai manifestasi dari pengetahuan dan inteleknya.

Kebahagiaan tingkat tertinggi adalah kebahagiaan yang dicapai melalui jalan spiritual. Kebahagiaan ini merupakan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang selalu terpancarkan bagai cahaya lentera meskipun dilanda oleh kegelapan seperti penderitaan, kemiskinan, dan lain-lain. Itulah tiga tingkatan kebahagiaan menurut saya. Opini ini bisa saja berbeda dengan opini pembaca, sebab inilah cara Ruang Skeptis menyajikan opininya.


Siapa yang menciptakan kebahagiaan?

Mungkin saja semua orang berkeyakinan bahwa kebahagiaan sebagai wujud harapan takkan tercapai tanpa usaha yang dilakukan. Yang menjadi pertanyaan skeptis saya adalah siapakah yang memberikan kebahagiaan? Apakah manusia yang menciptakan kebahagiaannya sendiri? Atau kebahagiaan itu lahir dari orang lain yang menilai? Mengapa tiba-tiba orang bisa mengetahui yang namanya kebahagiaan? Itulah pertanyaan-pertanyaan skeptis yang kami harap mampu merangsang pembaca untuk senantiasa melakukan refleksi melalui pertanyaan dialektika-skeptis tersebut.

Manusia bisa saja menciptakan kebahagiaan untuk dirinya, namun yakinlah bahwa itu hanyalah kebahagiaan semu yang fana. Sebab kebahagiaan yang utuh dan sejati hanya milik Tuhan dan hanya mampu dirasakan oleh manusia-manusia yang dikehendaki-Nya. Jadi untuk mencicipi kebahagiaan sejati itu menurut pandangan sufistik adalah dengan kematian yang menjadi jalan pintas penyatuan diri dengan pemilik kebahagiaan.


Mengapa manusia menginginkan kebahagiaan?

Hal yang tak bisa dimungkiri dalam diskursus kebahagiaan adalah manusia menginginkan kebahagiaan. Mengapa demikian? Apakah karena hal tersebut berkaitan dengan naluri alami manusia? Apakah itu hasil olah pikiran manusia? Ataukah itu hasil hasrat yang lahir dari hawa nafsu manusia? Nah, untuk pembaca yang budiman, bagaimana menurut? Mengapa Anda menginginkan kebahagiaan?


Tulisan ini terinspirasi dari rekan penulis yang ketika ditanya mengapa engkau kuliah? Dengan spontan ia menjawab "Aku ingin bahagia!". Lantas membuat penulis bertanya, mengapa manusia menginginkan kebahagiaan? Terima kasih sudah membaca tulisan ini, semoga bermanfaat. Salam Ruang Skeptis.
Read More

Mengapa Tuhan Menciptakan Manusia Bisu?

Mengapa Tuhan Menciptakan Manusia Bisu?


Gambar Manusia tanpa mata
Sumber Gambar : https://www.flickr.com/photos/meandedward/5653838579/

Sebelum masuk pada tahapan menjawab dan merefleksikan pertanyan atau fenomena ini, kita seharusnya menyegarkan pengetahuan kita tentang apa itu tunawicara, apa itu tunarungu, dan bagaimana fakta-fakta yang berkaitan dengan pertanyaan skeptis-reflektif ini.

Apa itu tunawicara atau bisu?

Bisu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti tidak dapat berkata-kata (karena tidak sempurna alat percakapannya atau tuli sejak kecil, atau hal tersebut juga bisa disebut dengan tunawicara. Bisu biasanya disebabkan oleh gangguan pada organ-organ tertentu seperti tenggorokan, pita suara, paru-paru, mulut, dan sebagainya. Bisu umumnya terkait dengan penyakit tunarungu atau tuli. Namun tidak selamanya orang yang bisu itu juga tuli. Oleh karena itu, selain mengetahui apa itu tunawicara selanjutnya kita juga seharusnya bisa mengetahui apa itu tunarungu.


Apa itu tunarungu atau tuli?

Tuli dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti tidak dapat mendengar (karena rusak pendengarannya); pekak. Dengan demikian banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di antaranya: apakah orang bisu juga dipengaruhi oleh penyakit tunarungu (ketulian) atau kebisuan yang mempengaruhi ketulian? Untuk pembaca yang telah memahami hal itu, semoga bisa memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Inilah sisi lain dari Ruang Skeptis, selain selalu menanyakan hal-hal reflektif juga memberi peluang pembaca untuk bertanya atau menjawab yang nantinya menjadi pembahasan di artikel selanjutnya.


Bagaimana fakta atau keadaan penderita penyakit tersebut di Indonesia?

Karena tulisan ini terinspirasi dari salah satu masyarakat Indonesia yang saya temui dalam kondisi kebisuannya. Dalam artian saya sendiri secara langsung bertemu dengan penderita penyakit ini di Indonesia tepatnya di kota Makassar. Nah pertanyaan yang muncul, apakah hanya orang tersebut yang menderita penyakit seperti itu? Ataukah masih banyak di luar sana yang juga menderita penyakit tersebut?

Kementerian Kesehatan pada tahun 1994-1996 pernah melakukan survey di  7 provinsi di Indonesia dengan hasil bahwa jumlah penderita ganguan pendengaran di Indonesia sebanyak 35,6 juta jiwa atau 16,8% dari seluruh penduduk Indonesia. Sedangkan yang mengalami ketulian sebanyak 850.000 jiwa atau sekitar 0,4% dari populasi.

Selain terdapat riset atau survey dalam lingkup nasional, juga ada beberapa data yang berada dalam lingkup dunia. Seperti data WHO Multicenter Study tahun 1998 menemukan bahwa terdapat sekitar 240 juta (4,2%) penduduk dunia yang menderita ganguan pendengaran. Sekitar 4,6% di antaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data tersebut, Indonesia dinobatkan menjadi negara peringkat ke-4 di dunia sebagai negara yang memiliki jumlah penderita ganguan pendengaran tertinggi setelah Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%), dan India (6,3).


Bagaimana perhatian pemerintah Indonesia atau dunia melihat kondisi tersebut?

Penderita penyakit ini memang kadang tidak mendapakan perhatian khusus dari pemerintah. Karena juga di sisi lain gangguan penyakit ini tidak di perhatikan oleh kalangan masyarakat itu sendiri. Namun bukan berarti pemerintah tetap diam setelah mendapatkan beberapa fakta dan data yang membuktikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara besar dari jumlah penderita penyakit tersebut.

Salah satu perhatian pemerintah yaitu pada tanggal 14 Desember 2007 membentuk Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT). Komnas PGPKT menargetkan angka penderita gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia akan turun sebanyak 50% di tahun 2015 dan tersisa 10% pada tahun 2030. Target yang menurut saya cukup menjanjikan. 

Meskipun hinga tahun 2017 belum ada data yang saya temukan mengenai penurunan jumlah penderita penyakit tersebut namun saya tetap memberikan apresiasi untuk Komnas PGPKT yang telah banyak memberikan penyuluhan di sekolah-sekolah juga bagi ibu hamil untuk selalu mencegah penyebab terjadinya kebisuan dan ketulian. Entah itu dari sejak lahir maupun setelah ia lahir. Karena menurut Komnas PGPKT, penyakit ini yang sejak lahir maupun bukan pada dasarnya masih bisa dicegah dengan beberapa pertimbangan sebelumnya.

Selain perhatian skala nasional, juga terdapat perhatian dari lembaga WHO. Setelah mengetahui kebanyakan penderita penyakit ini lebih banyak berasal dari Asia Tenggara, maka WHO mencanangkan program Sound Hearing 2030. Tujuannya adalah agar setiap penduduk di Asia Tenggara mendapatkan haknya yakni memiliki derajat kesehatan telinga dan pendengaran yang optimal di tahun 2030.


Mengapa Tuhan menciptakan manusia bisu?

Orang Bisu
https://www.flickr.com/photos/meandedward/5657208186/

Berdasarkan fakta-fakta di atas bahwa ada beberapa dari penderita penyakit ini yang berasal dari lahir dan itu sudah pasti merupakan kehendak Tuhan. Nah, pernahkah pembaca bertanya mengapa Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan tuli? Di mana letak keadilan Tuhan terhadap manusia yang tuli itu? Apakah manusia yang diciptakan tuli tersebut memang telah melakukan dosa atau kesalahan sebelum lahir sebagai wujud balasan untuknya? Ataukah seperti itukah Tuhan memberikan nikmat-Nya kepada orang tersebut berupa ketuliannya? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah wilayah Ruang Skeptis. Namun pada tulisan ini, yang akan kami refleksikan adalah mengapa Tuhan menciptakan orang tuli dan bisu dari sisi hikmah dan rasa skeptis. 

Namun sebelumnya, pada lingkup agama pertanyaan mengapa tuhan menciptakan manusia bisu merupakan pertanyaan yang orang katakan keliru sebab pertanyaan ini seolah menjudge dan menentang otoritas penciptaan Tuhan. Namun bagi saya, pertanyaan tersebut saya pakai atas dasar pemacu pembaca untuk melakukan reflektif atas fenomena tersebut. Inti dari pertanyaan "mengapa" ini adalah kunci pertanyaan pencari hikmah. 

Meskipun pertanyaan itu terlontarkan dalam naluri saya namun saya tidak tahu secara pasti mengapa Tuhan berlaku demikian. Yang jelas menurut saya Tuhan menciptakan orang bisu sebagai pembelajaran dan media refleksi kepada manusia yang tidak bisu. Jika seandainya semua manusia tidak ada yang bisu apakah tulisan ini akan ada? Jika andai kata di antara semua orang tidak ada yang bisu maka apakah akan ada orang yang melakukan refleksi atau renungan akan keterbatasannya? Apakah masih ada wujud pembelajaran buat orang-orang yang sempurna dalam penciptaan untuk mensyukuri kesempuraan fisiknya? Yah itulah salah sebabnya.

Pernahkah kita menyadari bahwa bahasa adalah kunci paling utama untuk memahami dunia. Tidak hanya untuk mengetahui banyak hal di sekeliling kita namun juga, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Setiap hari kita berinteraksi dengan manusia lain dengan bahasa. Kita tidak mengetahui berapa kata yang kita ucapkan dalam sehari untuk berkomunikasi. Bagaimana dengan orang tunawicara? Ia bahkan tidak mampu berbicara. 

Wahai pembaca yang budiman, pernahkah kita berpikir demikian? Apakah pendengaran dan kemampuan berbicara yang Tuhan berikan telah kita gunakan dengan baik? Ataukah apakah kita pernah dengan mudah mengatakan “Wahai Tuhanku terima kasih atas kemampuan berbicara dan pendengaran yang telah engkau berikan”. Jika tidak pernah, di manakah letak terima kasihmu kepada Tuhan yang telah memberikan semua itu?

Kepada pembaca yang tidak menderita kebisuan dan ketulian atau diciptakan dalam kesempurnaan potensi fisik maupun non-fisik, saya memiliki pertanyaan buat anda sebagai bahan reflektif. Bagaimana jika Tuhan menciptakan anda dalam keadaan bisu? Bagaimana jika bahkan hari ini Tuhan berkehendak bahwa mulai hari ini anda bisu, apa yang akan anda lakukan? Pernahkah anda bersyukur atas nikmat pendengaran dan kemampuan berbicara yang Tuhan berikan?

Kepada pembaca yang menderita penyakit bisu, terutama tunawicara yang pernah saya jumpai. Yang ingin saya sampaikan bahwa yakinlah Tuhan menyayangi kalian sehingga hal tersebut merupakan salah satu bukti ujian dan cobaan dari-Nya. Tegarlah dalam kehidupanmu, meskipun dalam keterbatasan itu. Semoga cepat sembuh dan Tuhan membalas keikhlasan dan kesabaranmu dengan balasan yang setimpal. Aamiin.

Tulisan ini terinspirasi dari manusia tunawicara (orang menderita bisu) yang secara langsung penulis jumpai di salah satu tempat di Kota Makassar. Meskipun hanya mampu menatap manusia bisu tersebut namun segala pertanyaan filosofis sekaligus doa dalam hati penulis terlontarkan untuknya.
Read More

Mengapa Kata Cinta Bermakna Lebay?

Mengapa Kata Cinta Kadang Bermakna Lebay?


Gambar Love
https://www.flickr.com/photos/31036266@N07/3613468903/

Apa defenisi dan makna kata Cinta?

Di dalam Filsafat Cinta yang pernah dikemukan oleh kanda Sainal, salah satu mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Alauddin mengatakan bahwa cinta adalah suatu hal yang tak dapat didefenisikan. Sebab ketika kita mendefenisikan cinta maka semakin jauh defenisi itu dari cinta yang sebenarnya. Kanda Sainal juga memberikan kesamaan kategori antara kata cinta dengan kata ilmu dan kata ada. Kata Ilmu misalnya, menurut kanda Sainal kata Ilmu tak dapat didefenisikan karena untuk mendefenisikannya kita membutuhkan Ilmu.

Ketiga kata tersebut merupakan kata yang tak dapat didefenisikan. Mendengar kalimat tersebut membuat saya bertanya, lantas bagaimana kita memahami kata tersebut jika tanpa pendefenisian? Atau bahkan kita hanya butuh memahami bukan mendefenisikan? Atau pertanyaan yang lebih spesifik seperti apa hubungan pemahaman kita terhadap kemampuan kita mendefenisikan? Semoga kak Sainal bisa menjawab hal tersebut melalui kolom komentar.

Apa defenisi dan makna kata Lebay?

Menurut Aulia Rahmadani, narasumber yang mungkin terjebak dalam paksaan penulis untuk berkomentar mengenai pertanyaan ini. Karena menurut penulis ia memiliki banyak pengalaman bertemu orang-orang lebay di sekitarnya. "Maaf, saya mungkin menggunakan kalimat lebay sebagai contoh bahwa seperti itulah kalimat lebay"☺. 

Aulia mengatakan bahwa kata Lebay merupakan kata yang berasal dari bahasa Alay. Bahasa Alay ini sendiri merupakan bahasa anak muda. Ia juga menjelaskan bahwa kata lebay merupakan bentuk lain dari kata "terlalu" dalam bahasa Indonesia, juga merupakan bentuk lain dari "Too Much" dalam bahasa Inggris. "Lebay itu kata sifat, Alay itu kata benda", tulis Aulia saat di tanya di WhatsApp.

Dalam beberapa artikel yang pernah saya baca bahwa Alay itu dapat diartikan sebagai Anak Layangan (Alay). Jika anda pernah mendengar lirik lagu berikut maka anda mungkin paham makna kata Alay :
“Alay, anak layangan... Nongkrong pinggir jalan sama teman-teman, biar keliatan anak pergaulan yang doyan kelayapan....”
Jika kita bertolak pada lirik lagu di atas, kata Alay dapat bermakna anak kampungan yang berlaku seenaknya atau berlebihan. Hal itu juga dijelaskan oleh Aulia bahwa kata atau tindakan itu akan bermakna lebay apabila ia terletak pada kadar "terlalu/berlebihan".

Nah pertanyaan selanjutnya yang lebih inti dan mendalam adalah: Mengapa kata cinta kadang bermakna lebay? dan Apa hubungan pemaknaan kita terhadap cinta yang selalu berujung pada ke-lebay-an.

Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Saya akan kembali mengutip pendapat dari Aulia Rahmadani sebagai narasumber kita pada tema ini. Ketika ditanya kapan kata cinta itu bermakna lebay? Ia menjawab dengan menulisnya seperti berikut :
"When I say, I love him, It's lebay. Except my dad" > Jika diterjemahkan mungkin artinya kurang lebih "Ketika saya mengatakan, saya mencintai lelaki, maka itu lebay. Kecuali ayah saya".
Mungkin berdasarkan pesan singkat tersebut anda bisa memahami kapan kalimat cinta bermakna lebay. Selanjutnya, berdasarkan defenisi lebay yang jelaskan oleh Aulia pada pertanyaan di atas dapat kita simpulkan bahwa ternyata cinta akan bermakna lebay apabila ia diungkapkan secara berlebihan baik itu lisan dan tulisan maupun tindakan.

Jadi, Apakah kata cinta yang tulus dan mendalam itu juga lebay? atau dengan pertanyaan lan apakah semua cinta bermakna lebay? 

Menurut Aulia, tidak semua cinta bermakna lebay sebab demikian misalnya cinta kita kepada kedua orang tua tidak pernah bermakna lebay meskipun mungkin kita tidak pernah mengucapkan langsung padanya. Namun tindakan yang kita lakukan kadang sangat besar yakni melakukan yang terbaik semata-mata hanya untuk membahagiakannya sebagai cinta kita dan hal itu tidak pernah di maknai sebagai tindakan yang lebay. 

Namun selanjutnya kembali ia mengatakan bahwa letak makna cinta yang lebay itu tergantung pada orang yang memaknai cinta itu. Jadi meskipun kita sebagai orang yang mengatakan cinta tidak berniat lebay, namun karena orang yang mendengarkan kalimat cinta itu bisa saja merasakan dan memaknainya dengan kata lebay. Sehingga muncullah istilah cintamu lebay.

Menurut saya sendiri, cinta memang tidak selamanya lebay. Cinta akan bermakna lebay jika ia masuk dalam kualitas yang dangkal. Masuk dalam kotak-kotak yang membatasi esensi cinta itu sendiri. Salah satu contoh yang membuat esensial cinta itu lebay dan dangkal adalah adanya cinta yang dinuansai pacaran. Nah padahal dengan pacaran inilah wadah cinta itu terkadang terlihat lebay. Ingatlah bahwa ke-lebay-an seorang lelaki terkadang berbanding lurus sama epitumia yang dimiliki.

Namun di lain sisi juga, tidak dapat saya mungkiri bahwa terkadang ada rasa yang kita ungkapkan akan disandingkan dengan makna lebay meskipun bukan dalam kotak pacaran, status galau misalnya. Sedangkan contoh cinta yang tidak bermakna lebay adalah cinta seorang sufi yang memiliki dan memberikan cintanya kepada Tuhannya yang sangat berlebihan bahkan pada taraf non-rasional. Tapi cinta ini tidak pernah dimaknai dengan makna cinta yang lebay.

Jadi kesimpulannya orang akan dianggap lebay jika ia melakukan sesuatu yang berlebihan dan secara normal hal tersebut hanyalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Ketika seseorang mengungkapkan cintanya dengan cara yang berlebihan dan tidak seperti pengungkapan cinta secara lazim akan dianggap lebay. Itulah kesimpulan awal saya. 

Tidak jadi soal jika kawan-kawan pembaca dan memiliki kesimpulan yang berbeda. Sebab tulisan ini merupakan opinial-skeptis yang bertujuan untuk memacu pembaca agar lebih berani menarasikan ide yang ada dengan metode skeptis.

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan status penulis yang dianggap lebay. Namun menurut penulis kalimat yang diungkapkannya melalui status tersebut mewakili apa yang dirasakannya. Semoga dengan tulisan ini bisa memberikan gambaran mengapa kata cinta bermakna lebay?. Silakan nantikan tulisan opinial-skeptis dengan mendaftar di Ruang Skeptis sehingga bisa mendapatkan tulisan-tulisan terbaru.
Read More

Apa Kita Salah Memaknai Agama?

Apa Kita Salah Memaknai Agama?


Gambar Tanda Tanya
http://isha.sadhguru.org/

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Pernahkah kita bertanya, apakah pengetahuan kita bertambah setelah kita belajar pada ideologi tertentu? Apakah pengetahuan kita bertambah setelah mempelajari nilai-nilai, ajaran, kebiasaan-kebiasaan yang agama kita tuntun? Apakah dengan mempelajari ilmu agama membuat kita semakin menyayangi manusia, hewan, dan makhluk lainnya? Meskipun banyak diantara kita malah lebur dalam dogmatis yang memberikan rasa kebencian dan meremehkan mereka yang tidak seideologi dengan kita. Ataukah bahkan kita membenci dan meremehkan mereka hanya karena tidak satu tempat kajian dengan kita?

Lebih tepatnya apakah kita pernah mempertanyakan nilai-nilai, ajaran, dan kebiasan-kebiasaan yang tanamkan oleh agama dalam kehidupan kita? Apakah nilai-nilai, ajaran, kebiasaan-kebiasaan itu memberikan dampak positif atau negatif jika diyakini dan dilestarikan. Sadarkah kita, bahwa tidak sedikit di luar sana mengatasnamakan ajaran agama untuk membunuh, menistakan, mencaci, dan segala bentuk penindasan lainnya hanya karena persoalan tidak seideologi dengannya.

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Apakah menghargai dan memberi kebaikan hanya terbatas pada lingkup ideologi yang sama? Apakah ilmu agama dan ilmu - ilmu lainnya yang kita pelajari selama ini menuntun kita menjalani kehidupan yang harmonis dengan sesama manusia?

"Agama mengajari kita nilai - nilai pluralitas meskipun tidak mengakui pluralisme", itulah kata mereka. Entah, menurutmu sepakat atau tidak. Setidaknya aku manyampaikan satu hal untuk kita renungkan. 

Para agamawan mengatakan, "Ilmu agama merupakan ilmu yang universal dan meluas". Jika demikian mengapa banyak diantara kita, yang juga merupakan pecandu agama yang malah menganggap agama dapat dimengerti olehnya. Seolah - olah agama itu hanya bisa ditafsirkan selebar daun kelor. Mengapa kita mesti menyempitkannya dengan berbagai dalil - dalil intoleransi? 

Menyempitkan makna agama hanya sebatas kalkulasi pahala dan dosa, takut - menakuti dengan neraka, mengiming - imingkan dengan surga. Bukankah agama hadir sebagai wujud transformasi dari zaman penindasan dan kebodohan menuju zaman pembebasan dan peradaban?

Saya adalah manusia tak berilmu, tapi ada satu hal yang saya yakini bahwa Tuhan menciptakan manusia yang berbeda denganku, tak seakidah denganku, tak seideologi denganku, semua itu bukanlah kesia-siaan. Mampukah aku menjudge mereka yang berbeda denganku dengan dalil-dalil kitab suci yang sepertinya sengaja di gelintirkan sehingga bermakna intoleransi. Mampukah kita membenci dan meremehkan mereka sedangkan agama dan ideologi kita tak mengajarkan demikian? 

Menurutku tidak baik suatu ideologi jika tidak dapat memberikan nilai harmonisasi dalam kehidupan kita. Menurutku tidak baik suatu ideologi yang hanya memberikan fanatisme dan menghilangkan toleransi untuk ideologi yang lain. Itu menurutku, namun tak menghalangi engkau mengatakan hal yang berbeda atas dasar menurutmu. Saudaraku, bagaimanakah menurutmu ideologi atau agama yang baik itu?

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Pernahkah kita bertanya tentang pentingnya agama dalam kehidupan? Bukankah banyak problematika besar - besaran saat ini diakibatkan oleh persoalan agama. Penduduk Indonesia saling demo-mendemo, caci-mencaci, fitnah-memfitnah, semua itu karena alasan kriminalisasi, penistaan, dan semua itu karena agama. Kenyataan ini tidak lagi mencerminkan kesucian, kedamaian, dan urgensi ajaran agama sebagai rahmat untuk alam dan manusia.

Karena agama, tercipta peradaban yang besar dan kehidupan masyarakat damai. Namun dilain sisi karena agama pula, akan tercipta peperangan dan pertikaian diantara kita. Jika kita dihadapkan pada realitas-realitas ini dimanakah letak kesalahan kita dalam memaknai Agama dalam kehidupan ini? Mampukah setiap orang memaknai Agama itu secara filosofis sebagaimana hakikat yang paling esensial dalam suatu agama?

Ataukah agama yang kita anut adalah agama yang salah sehingga menimbulkan permasalahan? Lantas jika agama kita salah maka agama apakah yang benar yang harus kita anut? Bukankah semua agama mendefenisikan diri sebagai agama yang benar. Tapi mengapa penganutnya mendustakan kebenaran ajaran agama mereka?

Ataukah bahkan kita yang salah dalam memahami agama itu? Kesalahan pemaknaan kita akan agama membuat kita banyak melakukan penindasan, penistaan, mencela agama lain dan perbuatan lain yang kontradiksi terhadap ajaran agama. Padahal agama menjanjikan kehidupan yang sejahtera, rukun, dan damai. Namun kesalahan pemaknaan akan ajaran agama membuat kita semakin jauh akan kesejahteraan dan kerukunan itu. Apakah problematika hari ini muncul karena kesalahan pemaknaan kita terhadapa agama? Ataukah ini hanyalah masalah biasa yang dibungkus dengan nama agama?

Namun ada hal yang unik. Ada orang - orang tertentu yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama namun juga banyak melakukan penyimpangan dan perbuatan yang tidak sesuai ajaran agama dan bahkan  lebih parah dibandingkan orang yang tidak mengenal agama. Bukan hanya ia mengkafirkan, mencaci-maki, meremehkan bahkan juga mengabaikan penderitaan saudara seagamannya. Karena terlena akan kenikmatan ritual semata. Apakah agama hanya mengajarkan ibadah dan ritual saja?

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Sangat sedikit seorang agamawan yang tidak memiliki rasa toleran. Apakah ini dikarenakan agama memang tak memiliki nilai toleran? Ataukah toleransi agama ini dimangsa oleh mereka para agamawan yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi?

Saya adalah manusia tidak berilmu, namun ada hal yang saya pahami dari ketidaktahuanku bahwa agama bukanlah persoalan hubungan seseorang dengan Tuhannya semata. Jika agama hanya persoalan hubungan antara Tuhan dan hambanya, maka pantas agama itu dikatakan candu, yang membuat orang terlena akan kenikmatan ritual semata dan mengabaikan kehidupan sekitarnya. Itulah sekelumit pemaknaanku akan entitas agama.

Saudaraku, ingat bahwa hubungan vertikal dan horizontal mesti disejalankan. Sebagai proyeksi hubungan terhadap Tuhan maka akan berdampak pada hubungan kita terhadap sesama manusia. Apakah logis jika kita mendustakan kebaikan orang lain sebagai alasan kita tidak satu agama, namun dilain hal kita meyakini bahwa Tuhan kitalah yang memberikan kasih sayang, rezeki, kekuatan kepada seluruh manusia.

Jika segala kebaikan yang orang lain berikan kepada kita hanyalah sebuah kesia-siaan karena alasan akidah yang berbeda dengan kita, bukankah lebih sia-sia lagi Tuhan menciptakan manusia yang demikian sia-sianya?

Maukah engkau menjawab pertanyaan konyol dariku?

Untuk saudaraku seakidah denganku, aku memiliki pertanyaan konyol untuk kita. Jika mereka berbeda akidah dengan kita, apakah hanya karena perbedaan itu mereka tidak layak mendapatkan perlakuan dengan kasih sayang, tidak layak mendapatkan kepedulian, dan tidak layak mendapatkan penghargaan? Atau lebih tepatnya hanya pantas mendapatkan hardikan, hujatan, lirikan sinis, dan sindiran kasar? Bukankah hujatan, hardikan, sindiran kasar, dan kekerasan bukanlah ajaran dalam ideologi dan akidah kita.?

Untuk mereka yang tidak seakidah denganku. Wahai saudaraku, jika ideologi dan agamamu memberikan dogma dan perintah demikian halnya diatas. Apakah engkau akan membunuhku hanya karena kita berbeda Ideologi dan Agama? Apakah engkau rela memutuskan tali cinta, solidaritas, dan persudaraan kita yang pernah ada hanya karena perbedaan ini? Dogmatis agamamu yang membenci ideologiku takkan mampu membuatku benci padamu karena bagiku apapun agama dan ideologimu, engkau adalah saudaraku. Saudara dalam hal makhluk ciptaan Tuhan.

Izinkan aku mencintai dan menghargaimu meskipun engkau berbeda denganku, karena aku mencintaimu dan menghargaimu tidak lain karena rasa cintaku pada Tuhan yang juga menciptakanmu. Tuhan bahkan tak mustahil menciptakan kita sama dalam satu ideologi dan agama. Aku tidak sanggup membencimu karena aku bahkan tidak sanggup membenci Tuhanku. Maka dari itu marilah hidup berdampingan secara harmonis.

Semoga engkau mampu menghargai pertanyaan - pertanyaan konyol dariku. Salam perdamaian.

Ket : Tulisan ini juga sebelumnya diterbitkan di ReadPublik - Bacaan Pencerah Mata Publik, dengan judul "Sekelumit Tanda Tanya".
Read More